Terinspirasi film Earth, saya tulis semua ini. Earth, sebuah film yang ternyata mampu membuka mata saya. Hanya hewan-hewan yang menjadi bintang filmnya, asli yang Allah pilih sebagai aktor yang ulung. Disana dikisahkan awal kehidupan dua ekor anak beruang kutub. Mereka tinggal dengan induknya di lubang di bawah salju. Melihat matahari untuk yang pertama kalinya setelah masa hibernasi yang panjang. Belajar berjalan, belajar mencari makan, berjuang untuk mendaki bukit salju yang mungkin saja bisa runtuh. Itu mereka lakukan dengan bantuan induk. Diselingi kelahiran itik-itik di lubang pohon yang tinggi. Induknua turun lebih dulu dan menyemangati anak-anaknya untuk segera menyusulnya turun. Merasakan daratan.
Masih banyak hewan yang dikisahkan, antara lain perjuangan koloni gajah menemukan air di gurun, perjuangan paus bungkuk dan anaknya mencari planton ke kutub utara, perjuangan caribou, perjuangan anjing laut, perjuangan para singa yang lapar, perjuangan burung (lupa namanya) “menyeberangi” tingginya puncak Himalaya, perjuangan ikan (lupa lagi namanya) menjaga barisannya agar tidak termakan oleh ikan yang lebih besar, dan masih banyak lagi kisah perjuangan hidup mereka.
Mengapa saat ini saya ingin menulis tentang kehidupan? Sayapun tak tahu jawabnya apa. Hanya saja beberapa kali hati dan muka saya terpalu dengan kerasnya dengan kata hidup dan belajar. Mulai dengan dua kata itu saya berusaha mencari jawaban, yang kebenarannya mungkin masih menjadi rahasia Allah.
Dimulai dari kata hidup. Saya sadari sepenuhnya kata hidup ini mempunyai konotasi aktif bergerak, bernafas, tidak mengalami kematian, berproduksi. Itulah hidup dalam konotasi bahasa. Ternyata, baru saja saya temukan hidup dengan konotasi yang lebih bermakna (bagi saya sendiri, belum terprediksi untuk orang lain). Hidup bagi saya adalah menggerakkan kehidupan yang ada. Manusia, hewan, tumbuhan dihidupkan oleh Allah untuk menjadi penyeimbang kehidupan. Hidup inilah yang nyata dalam mata saya. Hidup dalam arti sebagai actor yang memainkan peran masing-masing hingga akhirnya besok akan kita lihat film itu kelak “disana”. Film tanpa editing sama sekali, kehidupan yang nyata.
Hidup tak hanya sekedar bernafas, hidup itu butuh yang namanya sumber hidup? Apakah itu sumber hidup? Itulah jiwa kita sebagai manusia. Jiwa yang bersih ataupun kusut, itu pilihan yang harus segera dipilih untuk menggerakkan kehidupan tadi. Sehingga polesan di film itu semakin terasa. Ada dua hal yang ingin saya ingatkan (pada diri saya sendiri), yang pertama dalam hidup itu pilihan dan yang kedua, terkadang dalam hidup ini tidak ada pilihan sama sekali. Hidup itu pilihan, ya! Itulah sebenarnya hidup. Sebelumnya sudah saya sebutkan sumber hidup yang penting. Itulah pilihannya! Bersih atau kusut? Bukan kata kotor yang saya ungkapkan disini, karena kotor bisa dibersihkan, tapi kusut sangat susah untuk dibentuk menjadi sesuatu yang indah lagi atau kembali seperti semula. Mana yang akan kita pilih?
Karena telah diberikan pilihan, maka saya memilih sumber hidup dengan jiwa yang bersih. Kebersihan ini memudahkan saya untuk mengisi dengan sepenuh-penuhnya atau kapasitas itu akan saya isi dengan maksimal. Kebersihan ini menjadikan dirinya penyaring yang ulung hingga akan menjadi hasil yang jernih dan lebih indah. Dengan kebersihan itu, saya akan lebih mudah mendapatkan segalanya. Itu yang saya rasakan. Saya tidak tahu apa jadinya bila kusut yang saya pilih. Maka bila datang kesempatan untuk memilih,maka pilihlah! Hidup itu pilihan untuk semuanya. Bila ada yang beranggapan hidup itu bukan merupakan pilihan, itu opini masing-masing. Tak ada salahnya juga.
Kemudian belajar. Ini tamparan bagi saya. Dalam satu pekan saya dipaksa “dipertemukan” dengan ayat Allah QS. Ali Imran 110 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” dan QS. Al Jumu’ah 2 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah . Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Inilah paksaan yang hadir dalam hidup saya untuk belajar. Mengapa belajar? Dalam ayat 110 surah Ali Imran begitu jelas dikatakan “ kamu umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang mungkar….” Bagaimana bisa melakukan itu semua bila tidak diawali dengan belajar melakukan yang ma’ruf? Bukannya dikatakan oleh banyak orang bahwa keteladanan itu memberikan efek pendidikan yang lebih baik? Belajar melakukan hal yang ma’ruf, itu yang saya maksud belajar.
Selain itu, sebagai seorang muslim saya dipaksa bertemu dengan surat Al Jumu’ah itu untuk menyadari, bahwa Rasulullahpun belajar. Belajar apapun. Dikatakan dalam ayat 2 bahwa beliau adalah seorang buta huruf yang membacakan ayay-ayat Allah kepada manusia. Ayat ini memacu saya untuk bergiat belajar. Belajar tentang segala yang berguna untuk kehidupan.
Hingga akhirnya ada kata-kata penyemangat diri yang tak pernah saya lupakan HIDUP ADALAH BELAJAR DAN MENGAMALKAN UNTUK KEHIDUPAN. Hidup di dunia itu memang sementara, pendek sekali waktu kita untuk menikmati indahnya dunia. Dengan waktu yang pendek itulah entah bagaimana caranya saya harus memaksa diri saya sendiri untuk belajar dan mengamalkannya hingga bisa menjadi bekal di kehidupan selanjutnya yang abadi. Tak seorangpun tahu akan masa depan.
Perjuangan belajar dalam hidup dan perjuangan mengamalkannya butuh yang namanya sabar dan ikhlas. Sesungguhnya saya sering mempertanyakan diri yang hina ini, sudahkah seperti itu? Boleh jadi semua ini hanya bualan saya yang begitu manis didengar? Baiklah, mencoba bangkit dari keterpurukan yang saya ciptakan sendiri menjadi pendorong bagi saya. Merobek lembaran hitam itu dan memulai lembar baru yang lebih bersih dan indah.
Namun, perlu diingat juga, hidup itu tidak mudah, belajar itu tidak mudah, mengamalkan dalam kehidupan juga tidak mudah. Tidak ada yang mudah di dunia ini! Lalu bagaimana? Saya katakana pada diri saya sendiri, yang mengatakan tidak mudah adalah hati yang sempit dan kusut! Ingatlah saya bahwa pilihan saya adalah jiwa yang bersih. Jiwa kita senantiasa dalam genggaman Allah. So, hilang sudah! Bilamana muncul keraguan, singkirkan keraguan! Harus optimis tanpa overconfidence.
Dari kenyataan hewan-hewan dalm film Earth tadi, saya iri pada mereka. Tetap berjuang dengan segala keterbatasannya dalam kehidupan mereka, berjuang mempertahankan jama’ah (koloni), belajar untuk hidup dan hidup untuk belajar. Dalam benak saya, masa saya kalah dengan hewan-hewan itu mengenai kehidupan? Bukankah manusia adalah umat terbaik yang telah diberi akal dan pikiran?
Hehehehehehehe….. ini hanya sekedar uneg-uneg yang sedikit menyimpang dari biasanya.
Selamat belajar….Selamat hidup hari ini….Selamat untuk kehidupan
Innallaha ma’ashobirin
(tulisan ini pernah saya upload di blog friendster)