Posted by: jalanfirdaus on: December 15, 2010
Bukan hal yang baru lagi topik yang akan dibahas dalam tulisan ini. Sebuah pemikiran bersama, mendulang aspirasi dari banyak orang. Sebelumnya terima kasih kepada para responden yang telah memberikan jawaban dan juga opini terkait judul yang tertulis di atas. Untuk pembaca lainnya berikut saya tulis lagi pertanyaan yang diajukan kepada para responden.
Pertanyaan sederhana, tidak membutuhkan banyak waktu untuk menjawab keempatnya.
Pertama, meminta maaf.
Saya teringat perkataan seorang kawan, minta maaf akan kesalahan diri itu terkadang sulit dilakukan lo, ego masih terlalu tinggi untuk mengakui bahwa diri ini yang salah. Benar juga kata kawan saya. Sebagai manusia tanpa sadar kita selalu memposisikan orang lain adalah “yang salah”, “ tersangka” dan kitalah yang benar, kita yang berkuasa. Rasa seperti itu memunculkan rasa susahnya kata “maaf, aku yang salah” dari bibir manis ini.
Ada kisah lagi, tentang sepotong kue. Tidak akan bercerita tentang bagaimana membuat kue, tapi sebuah pelajaran untuk kita semua.
“ada seorang wanita di bandara yang menunggu jadwal penerbangannya. Masih ada beberapa jam sebelum take off. Untuk menghabiskan wakt yang dimilikinya, maka iapun membeli buku dan sekantong kue. Ia cari tempat duduk di antara bangku kosong di ruang tunggu. Disampingnya ada seorang pria berkacamata yang juga sedang duduk membawa buku.
Dalam keasyikannya membaca buku, diliriknya pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu telah ra mengambil kue yang terletak di antara mereka. Ketika sang wanita mengambil satu kue, maka sang pria juga mengambil satu atau dua kue. Tak ingin terjadi keributan, wanita itu tetap diam, membiarkan sang pria ‘ikut memakan kuenya’
Dalam batin sang wanita ‘ kalo aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia’. Sang pria tetap asyik dengan bukunya dan juga pada kue di kantong itu. Hingga tersisa satu potong kue. Sang wanita menunggu apa yang akan dilakukan pria ‘pencuri’ kuenya itu. Tak disangka, sang pria mengambil kue tersebut dan memotongya menjadi dua bagian yang sama dan menyerahkan pada sang wanita dengan wajah senyum dan cerah. Dengan gusar sang wanita merebu kue itu dan langsung beranjak dari tempat duduknya menuju pesawat. ‘dasar tak tahu terima kasih!’ kata wanita itu.
Bermaksud ingin melanjutkan membaca buku di kabin pesawat, wanita itu merogoh tasnya. Tak hanya buku yang ia dapati, tapi juga kantong kuenya! Ia tersentak, ternyata kue yang tadi ia makan adalah kue pria tadi, ialah ‘pencurinya’. Ada sesal yang mendalam dalam hati bahwa ia tak sempat bahkan tak mampu mengucapkan maaf dan terimakasih kepada pria tadi.”
Yang bisa kita ambil dari cerita itu adalah seringkali kita menjadikan orang lain adalah ‘penyebab’, penyebab kita kalah, penyebab kita terlambat, penyebab kita tidak bagus dan penyebab-penyebab yang lain. Pernahkah sekali saja kita mencoba berkata dengan gagah dan lapang hati, akulah penyebabnya, maafkan aku. Sungguh damainya dunia ketika orang salah mengakui dan minta maaf. (kalau koruptor mengaku apa jadinya ya?..hehehe ^^)
Maaf dan maaf, juga memberi maaf,, responden mengatakan momen idul fitri adalah saat yang tepat untuk minta maaf, tapi ada juga yang mengatakan tidak sepakat dengan hal itu dengan alasan, apakah masih ada kesempatan waktu untuk meminta maaf? Saya mencoba memahami alasan-alasan yang dikemukakan. Meminta maaf memag sudah seharusnya dilakukan jika melakukan kesalahan, langsung saja tidak perlu menunggu saat-saat istimewa karena kita tak akan tahu bisa menemui saat istimewa itu atau tidak. Namun tak sedikit orang yang butuh atmosfer dari momen untuk mengucapkan maaf. Tak ada salahnya menjadikan momen istimewa tersebut untuk meminta maaf. Naa sekarang maukah anda memaafkan salah orang lain?
Let’s gone be by gone
Kedua, memberi hadiah
Singkat saja untuk pembahasan ini. Mari berandai, anda membaca tulisan ini, kemudian tiba-tiba pintu rumah atau kamar diketuk orang, taarrraaa… ”ini untukmu sobat!!” Dengansenyum tersungging dengan ramah dan indah. Bagaimana rasanya? Terkejut? Bahagia? Atau tak ada rasa? Hari ini hari lahir anda? Jika bukan, selamat! Anda orang yang beruntung, ada yang memberi sesuatu yang istimewa untuk anda. Memberikan dengan tulus. Atau hari ini memang hari lahir anda? Selamat! Anda orang yang beruntung. Ada yang memberikan sesuatu di hari istimewa anda. Perhatikan dua hal berikut. SESUATU YANG ISTIMEWA dan SESUATU DI HARI ISTIMEWA. Ada perbedaan katarsis di keduanya.
Sesuatu yang istimewa tak mengenal kapan akan diberikan karena ingin membahagiakan sang penerima. Sesuatu di hari istimewa akan menambah kebahagiaan pada hari itu. Hanya pemaknaan kata, tak ada paksaan untuk menyetujui. Disini ditekankan efek hadiah atau pemberian itu. Apakah akan meningkatkan rasa ukhuwah dengan saudaranya atau seperti apa?
Orang-orang Ansar amat mengetahui betapa hajat Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi Wasallam dan kesukaran hidup yang dialaminya. Karena itu, mereka selalu mengirimkan hadiah dan pemberian untuk beliau. Perkara ini diceritakan oleh ‘Aisyah Radhiallahu `Anha kepada ‘Urwah Radhiallahu `anhu bahwa seringkali di rumah Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam tidak dinyalakan api karena tidak memasak. Lalu ‘Urwah bertanya apa yang dimakan bila keadaannya demikian. ‘Aisyah Radhiallahu `anha menjawab, “Hanya kurma dan air.”
Kemudian ‘Aisyah Radhiallahu `Anha menceritakan bahwa sekalipun demikian, Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam mempunyai tetangga orang-orang Ansar yang selalu mengirimkan hadiah, yaitu berupa air susu unta.” Muttafaqun ‘alaih Memberi Hadiah Jangan Diukur Nilainya? Anjuran Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam agar saling memberi hadiah walaupun sedikit tidak ditinjau dari sisi nilainya tetapi lebih kepada nilai maknawinya sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Perkara ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam melalui hadits Abu Hurairah Radhiallahu `Anhu bahawa beliau bersabda; ” Wahai para wanita kaum muslimin, janganlah ada seorang tetangga meremehkan pemberian tetangga yang lain meskipun pemberian berupa seujung kuku ( keracak ) unta.”HR.al-Bukhari
Sekecil apapun bentuk hadiah kita kepada orang lain, tapi bila kita hadirkan hati saat menyampaikannya insyaAlloh akan sangat berarti. ^^ (ayo sapa mau member hadiah???). tak hanya berupa barang berwujud, tapi telepon, sms kejutan pada orang lainpun juga bentuk hadiah. Bisa jadi pada saat itu sedang membutuhkan motivasi, dorongan untuk beban yang sedang dihadapi. Bisa kan?
Ketiga, berbagi
Inilah islam dengan segala bentuk cintanya. Islam menganjurkan untuk selalu berbagi kepada sesama. Memang pertanyaan untuk berbagi kali ini ditanggapi berbeda oleh para responden, jadi simpulan yang didapat ada dua. Yang pertama, momen idul adha sebagai momen tepat untuk berbagi dan juga berbagi di setiap saat. Tak jadi soal. Semua mengandung kebaikan, bukan?
Bila Anda memiliki segelas teh, lalu disuruh memberikannya kepada orang di sebelah, tinggal berapa teh yang tersisa Anda miliki? Tinggal berapa? Demikian mudahnya. Kalau memiliki tiga diberikan satu, tentu tinggal dua. Kalau memiliki dua diberikan satu tentu sisa satu. Kalau hanya memiliki satu diberikan satu, ya habis, tentu saja. Tak bersisa. Itulah yang sering terbayang dalam benak kebanyakan orang. Hitung-hitungannya memang begitu. Namun benarkah demikian itu? (Ust. Hanif Hanan)
Sesungguhnya kalian akan diberi pertolongan dan akan diberikan rizki oleh Allah SWT, manakala kalian mau menolong dan berpihak, membantu, serta mau memberikan kepada orang-orang yang lemah dan menderita dalam kehidupannya. (Riwayat Muslim)
Ayo siapa mau diberi pertolongan dan rizki oleh Alloh? Hanya dengan mau menolong dan berbagi,,, begitu murahnya Alloh memberikan pada kita manusia yang kadang masih berpikir berkali kali untuk hanya sekedar member. Hehehe.
Keempat, menyatakan cinta atau sayang
Ada yang unik di sini. Kekuatan cinta dari saudara mampu memberikan semangat dalam diri. Pasti pernah merasakannya. Kalaupun belum pernah mendapatkan ungkapan seperti itu, tak mengapa, mari mulai dari diri kita sendiri ^^.
Sebelumnya, mengutip dari sebuah tulisan. “diceritakan tentang seorang anak yang menderita seumur hidupnya karena ia mengira sang ayah tidak mencintainya. Suatu saat ketika ayahnya sekarat di rumah sakit, mengembuskan napasnya yang terakhir, sang anak itu tetap tak mau datang juga karena menyangka ayahnya masih tak menyukainya. Lalu ibunya bercerita bahwa sebelum meninggal dunia, ayahnya mengatakan bahwa ia sangat mencintai dan bangga akan anaknya itu. Sang anak menjerit keras karena selama ini ia membenci ayahnya karena dugaan bahwa ayahnya tidak mencintainya. Ternyata ia salah, sang ayah ternyata sungguh mencintainya walau tak pernah mengungkapkannya secara langsung. Tragis.”
Akankah cinta kita berakhir seperti itu?
Sometimes late at night
I lie awake and watch her sleeping
She’s lost in peaceful dreams
So I turn out the lights and lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would she ever doubt the way I feel
About her in my heart
If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes
‘Cause I’ve lost loved ones in my life
Who never knew how much I loved them
Now I live with the regret
That my true feelings for them never were revealed
So I made a promise to myself
To say each day how much she means to me
And avoid that circumstance
Where there’s no second chance to tell her how I feel
If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes
So tell that someone that you love
Just what you’re thinking of
If tomorrow never comes
(Ronan Keating -If Tomorrow Never Comes)
http://www.youtube.com/watch?v=ksxxVYHBkqI
Lirik lagu di atas sudah mengisahkan apa artinya menyampaikan rasa sayang dan cinta kita sebelum tak sempat menyatakannya dan akhirnya hanya penyesalan yang datang. We’ll never now what will happen tomorrow.
Nyatakan dengan ikhlas sehinga mengalirlah energi positif kepada penerima dan juga pemberi. Saya sepakat, tak perlu ada momen khusus, spontanitas lebih memberikan makna tersendiri. Ini menunjukkan masih ada kepekaan dalam hati kita, yang bukan berasal dari batu andesit.
Yuk, mari saling mengungkapkan kepada ibu, ayah, kakak, adik, saudara, kawan, sahabat kita sodara seiman (akhwat-akhwat, ikhwan-ikhwan) betapa sayang dan cinta kita kepada mereka
Theme: Albeo by Design Disease.
December 18, 2010 at 6:36 am
December 18, 2010 at 2:18 pm
syukron..