Posted by: jalanfirdaus on: August 30, 2011
Ramadhan tahun ini memberiku banyak nilai. Mulai dari hari pertama hingga akhirnya aku dipertemukan dengan bulan Syawal. Ramadhan mengajarkan makna kesederhanaan yang lebih dalam. Bermula ketika tanggal 1 Ramadhan punya keinginan untuk mengganti sandal jepitku yang sudah berasa batu ketika dipakai, Allah mempertemukanku dengan mas-mas tukang jahit keliling. Lebih tepatnya disuruh untuk melihat! Melihat ke arah bumi kakinya menginjak. SANDAL! Memang kulihat sandalnya bisa dibilang biasa untuk mataku, tapi tidak untuk hatiku. Dugh!! Sandalnya lebih tipis dari sandal kesayanganku yang udah hampir dua tahun setia bersamaku. Sandal mas itu bahkan sudah menempel tanah pas di tumitnya. Ya Alloh pelajaran ini membuatku tertunduk malu. Jujur aku sangat ingin mengganti sandalku karena sakit untuk menapak, tapi Kau menunjukkan padaku ada yang lebih sakit kakinya ketika menapak. Sandalnya lebih dekat dengan batu daripada milikku. Sungguh nikmat ini akan selalu berbekas di hatiku. Selalu terngiang fabiayya ‘alaa irobbikumaa tukadzdzibaan.. hanya sebuah realita kecil tapi sangat memberi arti.
Hari selanjutnya diwarnai dengan nikmat melihat. Bukan melihat barang-barang yang mampu menyegarkan mata yang memang haus tapi ini adalah pemandangan perjuangan untuk mempertahankan hidup di dunia yang semakin sulit (katanya). Diawali dengan perjalanan ke kampus biru di Bulak Sumur, mata berkeliling jalan tertangkap seorang mbah menuntun sepedanya. Belum usai ceritanya, tak hanya sepeda tapi dengan muatan gerabah yang kupikir itu sangat berat. Bayangkan saja melewati arah utara jalan Kaliurang yang artinya jalanan semakin menanjak. Mungkin saja mbah itu ingin memasarkan gerabahnya ke daerah Pakem dan sekitarnya. Melihat raut mukanya yang tua sungguh malu pada diri ini yang terkadang masih mengeluh untuk berjuang melawan segala kesulitan hidup. Kesulitan hidup yang sangat kuyakini tiap orang memiiki dinamika hidup masing-masing dengan tingkat yang berbeda-beda. Mbah itu mungkin tetap memasarkan gerabah dengan bersepeda karena mengalami kesulitan finansial, akupun sempat mengalami tapi tinggal minta orang tua atau mengurangi jatah mr machine. Sungguh konyol, belum mau berusaha bagaimana rasanya mencari. Melihat ini semua semakin kuat azzam untuk menjadi seoarang ibu yang juga seorang pengusaha sukses, seorang muslimah yang juga seorang pengusaha sukses, dokter yang juga pengusaha sukses, seorang guru yang juga pengusaha sukses. Itulah azzamku. Berdo’a kepada Sang Pemenuh Do’a makhluk yang meminta. Dengan usaha yang dimulai dengan meminjam modal orang tua (lagi-lagi orang tua) usaha kecilpun kumulai. Ramadhan ini mengajarkanku rasanya berbisnis. Berbisnis dengan jujur dan tanpa riba, insyaAlloh.
Warna selanjutnya adalah dari sebuah kultum tarawih yang kudengarkan. Singkatnya begini “ seberapa kesungguhan kita mengisi Ramadhan kita? Seberapa besar kesungguhan hidup kita di dunia dengan menjalankan tugas dari Alloh?” glek!! Kembali harus tertampar, tugas manusia di bumi adalah untuk beribadah kepada Alloh dan sebagai khalifah di bumi..hm,, inilah saat-saat harus memperbaiki ibadah, meluruskan segala niatan ibadah. Mendapatkan kembali semangat untuk menjalani istimewanya menjadi seorang Muslim. Tak ada manusia lain yang mendapatkan segala bentuk nikmat karena kedekatan dengan Yang Mencpta. Berbahagialah menjadi seorang Muslim. Bisa minta apapun kepada Rabb tanpa harus melalui perantara. Sujudlah, berdo’alah, tundukkan hati memohon ampunan dan memohon segala kebaikan untuk hidup yang lebih baik. Tamparan kedua di kelas ma’had pelajaran Ulumul Qur’an. Kata-kata ustadzku yang sangat tertancap di hati adalah “menghafal Qur’an itu wajib” singkat memang tapi begitu membuatku terbakar. Mengingat kembali catatan hafalanku yang sedikit amburadul, belum ada progres yang bagus. Mengawali dengan pelan, semoga Alloh membantu dengan memberi keringanan hati dan dihindarkan dari rasa malas dan setan yang menggoda. Aamiin.
Pekan ketiga Ramadhan, kembali harus melihat fenomena perjuangan hidup seorang anak manusia. Pulang mengikui seminar bersama sahabat tercinta kami tak langsung menuju rumah tapi ke sebuah masjid yang cukup besar dan terkenal. Masji yang penuh kenangan manis dan pahit. Bukan masjid yang akan saya jadikan tonjolan kisah, tapi seorang kakek penjaja es lilin. Ya, di tempat parkir motor kulihat dari kejauhan seorang kakek penjual es lilin membawa termos skecil yang udah usang, model yangudah uot of date. Awalnya kuperhatikan penuh tanya, masa puasa-puasa jualan es? Siapa yang mau beli? Eh beneran, di sepanjang dia menjajakan esnya tak ada yang membeli. Jadi merasa bersalah sudah bergumam seperti itu. Seperti pertemuanku dengan pejuang hidup sebelumnya, ia memberiku sebuah pemandangan yang membuatku malu. Allohlah yang selalu berhasil membuatku malu, membuatkau tertunduk, menangis. Sungguh kakek itu tanpa peduli sekitarnya tetap berjalan hingga akhirnya ada di depanku sekitar 20 meter. Aku masih menatapnya, betapa bodohnya aku kenapa tak coba kubeli esnya walau mugkin juga tak bisa kumakan? Tapi paling tidak bisa membantunya memberi untung. Pulang ke rumah kuceritakan kepada bundaku, bener kan, malah kena omel, kenapa gak dibeli lah, gak dicoba dulu lah,,adduh bundaku sampai menghitung jualan kakek itu yang mungkin untungnya tidak sampai 5000 perak. Hm,,,membuatku menyesal. Disinilah pelajaran untuk tidak memnunda berbuat kebaikan walau hanya dengan membeli hal seperti itu, tapi bagi kakek itu dan mungkin orang-orang lain yang juga bernasib sama sudah sangat meringankannya. Kebahagiaannyapun akan tertular dengan melihat senyum sumringahnya yang akan selalu terkenang sampai kapanpun.
Ramadhan tahun inipun diwarnai dengan kelulusanku dari universitas. Wisuda mengantarkanku untuk menerima ijazah dari dekan. Selembar ijazah yang diperoleh dengan belajar selama 3 tahun 10 bulan. Ya, hanya selembar ijazah yang mungkin Cuma berisi tulisan manusia dan tanda tangan dari rektor. Ada yang lebih penting, aku teringat dengan universitas yang lebih tinggi, universitas yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga makna hidup. Hidup dengan bersyukur, hidup dengan bersabar. Inilah hidup. Ramadhan inipun kuharap aku juga belajar arti sabar, sabar berdo’a, sabar menanti jawaban atas do’a-do’a yang terpanjat. Mengalami ujian masuk koas berkali-kali dan akhirnyapun lolos dengan senyuman. Alloh yang menjadi sandaranku telah menguji dengan sabar, terima kasih yang sangat kepada Alloh yang kucinta. Orang yang kucintapun memberi semangat dengan ikhlas, sungguh aku merasakannya. Ingin rasanya berucap terima kasih yang banyak..
Ramadhanku penuh cinta, Ramadhanku penuh bunga. Cintku bertemu dengan penuh senyum dari awal hingga akhirnya pertemuan yang indah itu terjadi (semoga ya Alloh). Seperti kata dari temanku, “semoga tahun depan bertemu Ramadhan lagi dan bertemu dengan cintaku” akupun mengamininya. Yang jelas, Ramadhanku tahun 1432 H penuh dengan warna, penuh dengan semangat, penuh dengan cinta!
Kan selalu kurindu semua pelajaran di bulan Ramadhan
Kan selalu kunanti pelajaran di madrasah ini.. Yang tak kutemukan di bulan-bulan lainnya
Merindu malam-malam penuh cinta dengan Rabb, di hening dan digin malam
Bersyukurlah kaum muslim yang berkesempatan untuk i’tikaf
Semoga, aku mampu menghidupkan Ramadhan di sebelas bulan selajutnya hingga Ramadhan tahun 1433 H
Yogyakarta, 30 Ramadhan 1432 H
October 20, 2011 at 4:13 pm
Pha Kbr cMua.?