Jalanfirdaus's Blog

7 HATI 7 WANITA 7 CINTA (a Film)

Posted by: jalanfirdaus on: September 11, 2011

Sebuah kisah sederhana bagian dari perempuan. Perempuan yang mencinta, perempuan yang rela berkorban dan perempuan yang belum mengerti arti mencinta, perempuan yang tersakiti, perempuan yang berjuang dan perempuan dalam penantian panjang. Arti mencinta bagi perempuan begitu indah dimatanya hingga cinta mampu membuatnya bertahan atas apa yang menjadi keyakinannya, hingga cinta mampu membuatnya bertahan dalam penantian yang tak menentu, hingga cinta membuatnya terlena. Korban cinta, mungkin bisa disebut demikian. Wanita adalah korban dalam sebuah percintaan. Inilah yang menjadi sorotan seorang dokter di sebuah film berjudul 7 Hati 7 Wanita 7 Cinta. Bercerita tentang tujuh wanita yang memiliki jalan cinta yang berbeda karena hati merekapun berbeda.

Bermula dari seorang wanita hamil bernama Lily. Ia seorang wanita keturunan Tionghoa, tinggal di rumah bersama suami dan adik laki-lakinya. Suami Lily sering menyiksanya hingga lebam. Dokter Kartini, seorang dokter spesialis obsgyn yang selalu mengontrol kesehatan kandungan Lily curiga setiap Lily datang kepadanya. Muka pucat, perut lebam, ada luka-luka. Dr. Kartini mencoba membujuk Lily untuk melaporkan tindakan kekerasan suami Lily ke polisi, tapi Lily selalu menolak dengan alasan “saya MASIH CINTA dia”.

Wanita kedua bernama Ratna, dia adalah istri yang taat pada suami. Menunggu kehamilannya selama 5 tahun. Seorang buruh pabrik konveksi jilbab, pekerja keras yang selalu memaklumi suaminya yang beralasan lembur kerja tiap ditanya pulang tengah malam atau tidak pulang sama sekali. Dia bahagia menghadapi hidupnya, walau harus sampai larut malam menjahit jilbab-jilbab untuk dikirim ke konveksi sebagai setoran, tak ingin mengambl cuti hanya untuk mendapatkan uang lembur dan selalu berkata kepada dr. Kartini “DEMI ANAK saya, dok, saya sudah menunggunya lima tahun”

Wanita ketiga bernama Rara. Seorang gadis belia umur 14 tahun, masih kelas 2 sekolah menengah pertama. Menjalin hubungan dengan seorang anak sekolah menengah atas. Ia mengaku pada dr. Kartini telat dua minggu, dan ketika ditanya apakah sudah pernah melakukan hubungan dengan laki-laki dengan wajah polosnya dang sumringah dijawab iya. Pengakuannya yang sangat jujur, bagaimana ia sebenarnya telah menolak ajakan pacarnya, tapi tak kuasa karena ia “MENCINTAI” pacarnya, dengan mudah Rarapun terhanyut. Kertas hasil lab ia berikan kepada sang pacar, tapi ya itu tadi, anak SMA akhirnya sama-sama bingung. Menyarankan aborsi supaya tidak diketahui jejaknya.

Selanjutnya adalah Ningsih, wanita karier yang mengalami obsesi mengandung anak laki-laki pada kehamilannya. Ia meminta kepada dr. Kartini untuk bisa mendapatkan anak laki-laki karena ia ingin mendidiknya sebagai laki-laki yang tidak seperti ayahnya yang menurut Ningsih adalah seorang laki-laki yang lelet, manja, banci, tidak mampu mengambil keputusan. Di rumah mereka seakan sudah menjadi neraka rumah tangga, tak ada keharmonisan karena karakter yang berbenturan dan tak ada yang mencoba untuk penegertian.

Lastri adalah seorang istri dari suami yang sangat pengertian kepadanya. Wanita ini mendapatkan kasih sayang berlebih dari sang suami. Sayangnya ia belum bisa mengandung akibat kelebihan berat badan. Dr. Kartini selalu menyarankan untuk melakukan diet tapi selalu saja alasannya adalah karena ia suka memasak dan makan. Suaminya selalu mengantarkan tiap kali Lastri kontrol ke dokter kandungan. Selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya. Lastri bisa dikata lebih “beruntung” dibanding Lily, Ratna, Nigsih pada kondisi ini.

Wanita ini merupakan wanita enerjik, cantik dan modis, seorang pekerja seks komersial. Yanti, biasa ia disebut. Karena aktiviasnya yang tinggi dan jam terbang yang begitu padat, ia belum pernah sekalipun memikirkan yang namanya menikah dengan laki-laki. Hingga suatu saat ia merasa perlu periksa ke dokter kandungan dan bertemu dengan dr. Kartini. Oleh dr. Kartini, Yanti dikabari bahwa ia mengidap kanker mulut rahim stadium awal. Hal ini menjadikan keruntuhan hati Yanti. Ia merasa dunia kiamat, ia harus kehilangan nyawa. Itu yang ada dalam benaknya, padahal sesungguhnya, semua masih bisa diusahakan dengan pengobatan.

Awal mula seorang wanita yang ingin hamil, wanita yang memperjuangkan kehamilannya hingga wanita yang tidak sengaja hamil karena ketidak tahuannya. Film ini mengangkat perasaan dr. Kartini yang selalu terhanyut dalam masalah-masalah pasien yang datang kepadanya. Dr. Kartini mengangkat semua yang terjadi dalam percintaan wanita dan pria, selalu wanita yang menjadi korban, wanita adalah yang terskiti. Ini adalah realita yang sekarang mungkin masih terjadi di Indonesia. Fenomena freesex apalagi, yang dilakukan oleh kaum muda yang tak paham akan pendidikan seks. Namun inilah realita. Akhir dari film tersebut adalah ujung dari polemik kyang terjadi dan semua bermuara pada satu titik. Lily mengalami perdarahan hebat pasca penyiksaan oleh suaminya hingga kemudian iapun menghembuskan nafas terakhir di ruang ICU.  Ratna memlilih pergi dari rumah karena mengetahui suaminya ternyata memliliki istri baru dengan dalih tak sabar menunggu anak darinya. Rara mempertahankan kandungannya dan memilih bersama sang kakak, Ratna. Ningsih dan Lastri akhirnya berkenanlan dengan kelahi karena ternyata suami mereka adalah orang yang sama. Laki-laki yang mampu berakting dengan dua karakter yang sangat berlainan. Yanti memilih berhenti dari pekerjaannya dan mencoba bertahan dengan kanker yang dideritanya. Iapun memutuskan menikah dengan seorang laki-laki yang tulus mencintainya.

Wanita ketujuh adalah dr. Kartini sendiri, sampai usianya yang sudah tak muda lagi ia belum menikah. Ternyata masih ada masa lalu yang tak mampu dihapusnya. Kenangan akan kekasih yang pergi meninggalkannya karena orang tua dr. Kartini tidak meyetujui hubungan mereka. Disisi lain ia merasakan posisi sebagai wanita yang tersakiti, sehingga pandangan terhadap sakit dan hancurnya perempuan adalah karena memang wanita menjadi korban atas cinta yang dperjuangkannya.

Adalkalanya cinta bisa menyakitkan, inilah bagian itu. Dikhianati pasangan, pada akhirnya kejujuran tak mampu hadir untuk menghiasi rumah tangga. Kejujuran atas perasaan cinta, jujur bila sakit, jujur bila tertekan, tapi seperti ini wanita yang begitu lembut menghadapi cinta. Cinta mampu menguatkan di satu sisi tapi juga mampu menghancurkan dengan sekali tendang. Cinta dengan kekuatan yang memikat.

Apakah benar wanita selalu menjadi korban dalam sebuah hubungan yang mengatasnamakan cinta? Benarkah tak ada laki-laki yang merasa tersakiti atas cinta yang ia rasakan? Ketika melihat contoh kasus faktual yang diangkat dalam film itu memang wanita yang menjadi korban, korban karena dimadu, korban karena menjadi pemuas hawa nafsu, korban kekerasan dalam rumah tangga. Perlu ditelisik lebih dalam, laki-lakipun bisa menjadi korban, dalam film ini adalah ayah dari dr. Rohana. Ia menjadi korban cinta dengan kematian istrinya. Ia merasa sangat kehilangan hingga foto sang istri selalu ditatapnya dalam. Laki-laki mengalami sakit yang tak tampak, tapi iapun menjadi korban atas cinta yang dirasa dan pelihara.

Dr. Rohana adalah seorang dokter kandungan juga yang merupakan rekan sejawat dr. Kartini hanya saja ia lebih junior. Ia memiliki pandangan laki-laki bisa menjadi korban cinta karena kenyataan yang dialami oleh ayahnya. Ia tidak ingin mengeralkan posisi “korban” karena semua bisa menjadi korban, dan karena semua adaah manusia yang memiliki rasa cinta.

Pentingnya mencintai dengan skala prioritas adalah solusi terbaik untuk mengatasi label korban cinta. Mencintai Sang Khalik melebihi yang lain maka sungguh korban cinta tak akan bergelimpangan. Cinta kepada kekasih atau suami adalah yang nomor sekian dari urutan mencinta. Ini untuk mendidik hati, melatihnya untuk menjadi pribadi yang kokoh dan tangguh apabila suatu saat terjadi pengkhianatan. Manusia tetaplah manusia, laki-laki adalah manusia, perempuan adalah manusia. Manusia yang memiliki hati untuk merasa.

 Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU. Mulai saat ini buatlah dan posisikan Alloh menjadi yang utama dan pertama untuk dicinta.

Dan kalaupun cinta kalian tertolak. Ketahuilah cinta itu bukan berarti memiliki. Cukuplah cinta itu ada, dan tidak melebihi cinta kalian semua terhadap Allah yang maha pengasih itu. Ingatlah kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Pemimpin yang pada masa kekhalifahannya orang Islam sangat makmur dan sejahtera, sehingga tidak ada yang mau menerima harta zakat karena tidak ada lagi orang miskin.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam 96)… cinta tetap bersyarat, tidak akan gratis didapat hanya dengan mimpi. Pertautan hati akan terikat dengan erat antara orang-orang shalih, orang yang menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan Alloh..

Cinta bukanlah tentang orang lain, melainkan tentang kebahagiaan hati diri seorang yang memiliki cinta. Cinta tak akan dimiliki oleh orang yang tak mampu mengolah rasa cinta menjadi hal yang membahagiakan. Membahagiakan diri dan orang lain disekitar hidupnya, sepanjang hidupnya. Kesempurnaan mencintai diperoleh dengan balasan cinta dari orang-orang yang ada di sekeliling, mendapati senyum ketulusan yang berasal dari hati. Dan jangan lupa bahwasanya balasan cinta yang paling tinggi dan semua berharap adalah cinta dariNya. Maka sangalah tak adil jika mengatakan wanita adalah korban cinta, laki-laki adalah korban cinta. Sesungguhnya tak ada yang menjadi korban dari cinta. Semua harusnya bahagia karena datangnya cinta sehingga cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

On being great lover..

 http://jalanfirdaus.wordpress.com/2011/04/11/kata-c-i-n-t-a/

Advertisement

6 Responses to "7 HATI 7 WANITA 7 CINTA (a Film)"

like this….hehe

sangat menyukai artikel ini…like this ris…:)

Saya sUka bnGet Dya ArtIkel Yg di bIkIn Crita Nieh..

Critanya mEnarIk.

He.. hE…ga dI balEs.

sori dek,,baru co ass belum sempet OL,,,maaf ya belum baca komenmu…

ga Pph lgI ka…LgI sIbuk bnget ya Ka..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • jalanfirdaus: hohoho...oke om,,thx for coming :)
  • Kazamatzuri: kata temen saya : "cinta itu jgn seperti nobita yg gampang menangis dan putus asa, jgn seperti giant yg penuh emosi, jgn seperti shisuka yg lemah, jgn
  • jalanfirdaus: bumbu apa?

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.